29 Des 2008

Senang! Riang! Kerannya udah bener!

Senangnya hatiikuu... turun panas demamkuu... semua karna keran di rumahku udaahh beeeneeerr.... Nggak perlu repot2 nimba aer laagiii....!!

Yak, setelah berabad2, dan milenium demi milenium terlewati dg 2 keran bocor di kmr mandi umum dan depan rumah, yang membuat air menjadi sebuah issue di rumah gue, kini semua itu sirna sudah. Tuhan telah mengirimkan pertolongan melalui sepasang tangan tukang, ternayta....betapa mudahnya mengganti 2 comot keran itu! Tau gituu, dari dulu2 aja kali!

Dan ditambah lg dengan dibenerinnya gagang pintu depan dan pintu ke tempat jemuran, pheeww.. lega. Daaaann... masih ditambah bonus foto keluarga yang akhirnya terpajang manis di ruang tamu. Yeah! Satu tukang, 5 masalah terlampaui!

27 Des 2008

GO AWAAAYY!!

Nggak ada kata kasian lagi buat kalian! Berkeliaran nggak jelas juntrungannya di istana mungil gue... yg kecoa

bokernya betumpuk di toilet [nggak ada pujian utk itu! biarpun di toillet tetep lo gak berhak], beranak pinak nggak pake program...

Yg semut2

ngerubungin segala bentuk hak milik pribadi gue, segala aer putih lah lo semutin, sampe garem [!], sampe pipis gue juga.. toples udah kosong aja masiiiihh dirubung! Bodoh banget sih? Yang konsisten dong, jadi semut! Katanya suka manis?!?

Sori bgt, eh nggak sori deng, salah kalian sendiri kalo sampe gue akhiri riwayat hidupnya. Tapi yaa, sedikit sori kalo buat kecoa, karena dulu kalian termasuk satwa yang gue cagar alamkan. Udah ditebalikin jadi telentang sama mami aja di dapur dulu, diem2 suka gue balikin lagi ke posisi semula biar lo bisa kabur dg selamat. Dan apa yang gue terima sebagai balasannya??? Lo semua nebar2 e'ek di rumah gue!! Iiii... jijiiikk....

Meskipun melawan hati nurani, dan terkadang sambil nangis2 tiap gepruk para kecoa pake sapu [paling ga tega kalo kecoa yg lagi kawin tuh, dg posisi saling pantat2an], tapi ingatlah wahai para serangga....... semua ini kembali pada keputusan kalian sendiri. Kalo ga mau gue basmi, menyingkir jauh2 dari rumahku!

Dari sisi seorang ibu

Menulis blog ini, gue mulai dengan menarik napas dalam. Tidak terlalu panjang, tapi dalam. Dan ternyata tetap tidak mampu mengenyahkan sesak di dada ini. Setengah mati menahan genangan air di pelupuk mata ini agar tidak jatuh bercucuran, kumohon airmata, jangan jatuh... aku sedang di kantor, tidak mungkin aku menumpahkan segala sedihku di ruangan aquarium ini...


Memang benar, kita tidak pernah tau rasanya hingga kita punya anak, yang terlahir dari rahim kita sendiri. Dulu tiap kali mami ngelarang, ngasih perhatian, atau pun ngasih masukan ini itu... yang mana gue anggep seperti laler2 ijo rame2 berterbangan di seputar kepala gue (terjemahan: terasa ganggu banget!) lalu gue ngelawan, sok berargumen dengan segala kekeras kepalaan, dan keluarlah kalimat sakti seorang ibu, "Nanti kamu ngerasain sendiri kalo udah punya anak!"


Bagi gue saat itu, apalah artinya tu kalimat. Nggak mesti nunggu punya anak, gue bisa tau kok apa yang mami rasain. Segala kasih sayang, amarah, kekuatiran, dan harapan mami ke gue anaknya....... gue taulaahhh......!!

Nope! I was a total idiot til I'm in the exact position she pointed! Semua yang gue pikir gue udah tau kira2 rasanya, saat gue bener2 di posisi seorang ibu, gue baru tersadar bahwa empati terbaik yang bisa gue rasakan dulu jika dibandingkan dengan sekarang, ibarat tai lalat di dagu Rano Karno. Ya, gue pikir udah cukup besar, ternyata perbandingannya adalah......... bulan? Langit? Jagad raya? Gue speechless, nggak ada 1 perumpamaan pun yang bisa menggambarkan kedahsyatan kasih seorang bunda ke buah hatinya.


Bukan berharap kelak anak gue berani ngelawan, tapi terkadang sering terbersit berandai-andai. Gimana ya, kalo Kalum nanti berseberangan pendapat sama gue, lalu menyampaikannya dengan cara yang menyakitkan hati....? Naudzubillaah, baru ngebayangin aja, hati gue rasanya udah sakiiitt...beneran. Dan lagi2 gue mo nangis, nggak sanggup nahan sedih. Padahal itu baru seandainya........ Rasa yang nggak pernah gue pahamin sebelumnya, sebelum Kalum ada. Belum lagi kekuatiran gue yang luar biasa terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Kalum. Ada miss sedikit aja, bisa bikin gue kalang kabut, hari hancur berantakan, semua orang kena semprot... dan jantung gue terus2an mo copot dari tempatnya, akan terus begitu hingga semuanya beres kembali. Hidup gue seketika menjadi Kalumcentered!


Kata2 sakti yang sering mami ucapin dulu ketika udah kewalahan menghadapi anak2nya, baru gue pahami sekarang.


Dan hati gue jadi lebih mudah tersentuh kalo udah berhubungan dengan bayi atau anak2. Tiap gue lihat sosok mereka, seakan gue lagi ngeliat anak gue sendiri. Kalo misal mereka jalan2 naik motor tanpa dibalut penghangat selayaknya, gue langsung kuatir, takut anak itu masuk angin. Kadang saat motor si gembul melintasi mereka, pengen rasanya gue negur orangtuanya utk masangin jaket ke anaknya, atau setidaknya dipeluk erat2, jangan dibiarkan menantang angin begitu. Kasihan, bu.... dia malaikat permata hati kita yang tercinta....


Suatu hari gue dapet kiriman email tentang "Ranjang Maut". Saat gue buka, gue terperangah! Di sana ada sesosok malaikat mungil yang....ya Tuhan..... mati lemas, karena kehabisan oksigen. Sepertinya dia mau turun dari ranjang dan terjepit di sela2 dipan, ah nggak perlu gue terusin detilnya, yang jelas saat itu gue langsung lari ke toilet, nangis sesunggukan, dan telpon Gembul buat melampiaskan emosi gue. Belum lagi kalo liat berita ibu buang bayinya di angkotlah, di jalanlah, di tempat sampahlah..... it's so out of my human senses and logics....



Mereka adalah anak2 hati gue, hanya garis takdir yang menentukan siapa yang terlahir dari rahim ini hingga mendapat prioritas lebih, dalam kasih sayang dan pemenuhan tanggungjawab.

2 hari lalu, Gembul kasih gue sebuah buku yang dia pinjem dari Teteh, "Sepotong Cinta di dalam Hati", dengan sub judul Renungan Seorang Ayah Mendampingi Anak Autis. Kalimat2nya yang tulus dan menyayat hati, dikombinasikan dengan rasa keibuan gue sekarang, membuat gue terus menerus bekerja keras untuk nggak menangis sepanjang membaca buku kecil ini.


Pikiran gue membayangkan sosok Tita, anak dari si penulis. Dan tentunya yang nggak bisa hati dan otak gue tolak........ pikiran ini melayang ke Almer........... Almer-ku..........'anak' pertamaku......... yang terlahir dari rahim kakak ipar gue, Biby. Yang hingga detik ini masih belum mampu berbicara layaknya kemampuan anak umur 2,5 tahun, yang seringkali menangis melolong sedih karena nggak mampu menyampaikan apa yg dia maksud, yang sinar mata malaikatnya membuat gue ingin mengorbankan apa pun di diri gue untuknya, yang kelakuan rusuhnya terkadang membuat geli sekaligus trenyuh, karena gue tau betapa dia haus akan perhatian sehingga kadang dilampiaskannya dengan beraksi ini itu untuk menarik perhatian kami......


Maafkan aku yang hanya bisa memelukmu, menciummu, mengajakmu berbicara, dan bermain sesempatku. Aku hanya bisa berdoa agar kondisimu tidak seburuk yang kami kira. Yaa Allah, lindungilah setiap titik sel dan darah keturunan2 kami dari segala keburukan. Love u all, anak2ku.. .Almer & Kalum, dan buah hati- buah hati yg belum terlahir...



24 Des 2008

Kenapa berjilbab setelah menikah???

Kenapa berjilbab setelah menikah??? Lengkapnya: Kenapa MENUNGGU menikah dulu baru berjilbab?

Awalnya gue berusaha keras membiarkan pertanyaan dangkal dari orang2 ini untuk sekian lama.

Satu persatu perempuan2 di sekitar gue menggunakan jilbab setelah hari pernikahan mereka, bahkan termasuk gue sendiri. Semakin lama semakin banyak, terutama di kantor. Dan pertanyaan pun makin deras mengalir, -yang ironisnya- paling banyak dilontarkan oleh sesama muslim sendiri, -yang tragisnya- terkadang bukan hanya berbentuk pertanyaan, melainkan ejekan, sindiran, maupun fitnah.

Oke, pada akhirnya gue nggak bisa lagi menahan rasa gerah gue untuk nggak menjelaskan panjang lebar, jika memang hal sesederhana ini tidak mampu kalian pahami, hai saudara2ku sesama muslim.

Betapa budaya menjatuhkan itu sangat dinikmati oleh masyarakat kita. Saat ada teman yang biasanya jarang sholat, lalu suatu hari terlihat sholat, maka teman-temannya dengan enteng berucap ”Tumben sholat?!”,Wah, udah sadar lo? Ada angin apa, nih?”, ”Naaa...gitu dooong!”, atau bahkan ”Alhamdulillaaah, lo akhirnya insap!”. Yang mana semua itu diucapkan dengan nada ejekan. Tidak sadar bahwa sepatah kata yang sepele bagi mereka, besar dampaknya dan dapat menjatuhkan semangat si teman untuk terus beribadah.

Memang, kalau mau ibadah ya ibadah aja, nggak usah hiraukan omongan miring orang. Tapi gue lagi bicara dari sisi kita yang melihat mereka menjalankan ibadah, bukankah lebih bijak kalo kita dukung mereka dengan cara yang nggak bikin mereka down? Kita ini saudara seiman, bukan? Dan betapa sombongnya kita melontarkan kalimat2 itu seolah ibadah kita sudah lebih baik darinya.

Budaya minus orang kita ini juga yang gue anggap ujian buat ketulusan gue berjilbab. Ditanya kenapa nunggu ’laku’ dulu baru nutup aurat seutuhnya, digosipin pake jilbab buat nutupin tekdung sebelum nikah, gue udah kenyaaangggg dg kalimat2 senada itu.....EEERRGH!! *sendawa kenceng2, kwaa kwaaa kwaaaa*

Manusia itu, disadari atau enggak, biasanya menunggu momen untuk melakukan sesuatu. Dengan adanya momen, terasa lebih ada motifasi untuk menuju apa yang ingin dilakukan.

Perhatiin aja, kebanyakan mereka yang tadinya nggak berjilbab dan akhirnya berjilbab, hampir pasti melakukannya setelah melalui momen tertentu. Entah itu di hari pertama tahun ajaran baru, hari pertama bulan puasa, hari setelah Lebaran (atau tepat di hari Lebarannya), hari pertama tahun baru (entah Masehi atau Hijriyah), setelah berulangtahun, setelah naik haji, atau setelah sah menjadi milik seorang lelaki muslim a.k.a menikah.

Kenapa? Bukannya ini sebuah kewajiban setelah baligh dan bisa dilakukan kapan saja?

Memang!

Tapi kalau lo punya pertanyaan itu, gue pun bisa tanya balik. Kenapa orang rame2 bikin resolusi tahun baru, dan mesti menunggu tepat tanggal 1 Januari untuk melaksanakan perubahan2 baik yang menjadi resolusinya itu? Kenapa tidak detik ini? Kenapa banyak orang menunggu Idul Fitri untuk bermaafan? Kenapa orang menunggu tanggal ulangtahun untuk memberikan kado? Kenapa orang menunggu hari Valentine (bagi yang merayakan) untuk mengungkapkan kasih sayang? Kenapa menunggu hari ibu untuk memberi perlakuan spesial untuknya? Kenapa?

Coba ingat2, pasti lo termasuk di salah satunya. Kalo bukan seperti yang gue sebut di atas, setidaknya dalam bentuk lain. Jadi, saat kalian mempertanyakan *entah dengan niat apa pun* tentang kami yang baru berjilbab setelah menikah, kalian sesungguhnya mempertanyakan prilaku kalian sendiri.

Manusia terkadang butuh momentum untuk memulai tindakannya. Tidak ada penjelasan logis, hanya memang begitu.

Dan inilah momentum kami. Pernikahan.

Di saat Tuhan menganugerahkan kami seorang lelaki beriman menjadi muhrim dan imam seumur hidup, maka ini salah satu bentuk rasa syukur pada Tuhan dan ’kado’ dari kami buat suami. Bahwa dengan jilbab ini kami ingin menyatakan bahwa ”seluruh jiwa raga ini seutuhnya hanya sah, halal, dan dipersembahkan untuknya” ......... terhitung sejak janji suci pernikahan terucap. *tidak berarti jilbab akan dilepas jika maut memisahkan hlow, krn tanggung jawab ini ke Tuhan*

Andai pun terlontar dari hati lo ”Iiih, kok jadi kaya’ tren gini, sih?”, kenapa terusik dengan tren yang baik, sedang tren yang buruk lo wajarkan, tidak pernah lo pertanyakan, bahkan tidak mengusik hati lo sama sekali? Seseorang berbuat suatu ibadah dan menginspirasi orang lainnya, kenapa justru dianggap fenomena yang aneh? Apa bedanya misal dengan seorang lelaki yang tadinya bejat dan akhirnya bertobat setelah berkeluarga, tadinya tidak pernah sholat, setelah berkeluarga baru mulai sholat? Apa karena jilbab ini ada wujudnya hingga lebih mudah untuk dituding?

Sebagai sesama muslim, beratkah untuk ikut merasa bahagia untuk saudaranya yang telah menjalankan kewajiban seorang muslimah? Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali? Sedangkan Tuhan saja menghargai ibadah hambaNya, siapa kita hingga berhak mencibir?

Coba tanya lagi sama diri sendiri, jangan2 apa yang kita cibir itu juga kita lakukan, hanya bungkus perbuatannya saja yang berbeda... *_^

Semoga kita termasuk orang2 yang tidak menafikkan perlindungan Allah dari sifat merasa lebih baik dan berburuk sangka.

21 Des 2008

365

2 x 365 hari yang lalu, berdua kita berjalan menyusuri pusat Jakarta. Merayakan apa yang banyak orang sebut sebagai ‘satu tahunan’ :). Entah kenapa harus satu tahun yang dirayakan, sementara keriaan ini aku rasakan setiap hari, setiap detiknya, sejak hari pertama.

Kalau orang sering mengumpamakan rasa yang menggelitik ketika jatuh cinta itu dengan ‘ada kupu-kupu terbang di dalam dada’, yang aku rasakan adalah ‘kucing yang berlarian, berlompatan dan mengeong-ngeong tiada henti’. Dan semakin hari kucing-kucing itu semakin banyak, semakin riang… itulah surgaku, hatiku yang terus jatuh cinta kepadamu…


Hari ini adalah 365 hari kita yang ketiga. Hari jadi kita berpacaran :) Hari yang istimewa. Seistimewa hari ke-364, 363, 362, terus kebelakang. Seistimewa hari-hari kedepan…




Bahkan saat kamu begitu menyebalkan hingga dalam benakku ingin aku jitak keras2 jidat nong-nongmu…. Bahkan saat kau membuat air yang mahal dari mataku ini mengalir karena pertengkaran… Bahkan saat teriakan amarahmu membangunkan tetangga sebelah rumah… semua terasa sama indahnya dengan tanganmu yg mengacak usil rambutku, sama mendebarkannya dengan airmata kerinduanku, sama merdunya dengan bisikan suaramu yg mendesahkan satu delapan enam…..


Cintaku, apapun yg kau lakukan padaku, apapun yg kulakukan padamu, hanyalah warna warni yang kita kelir berdua untuk mendapatkan ponten yg sempurna dari Sang Maha Cinta ^_^


Ha, satu detik lagi berdetak…. Selamat yaaaa!!!!



16 Des 2008

AGAIN?!?


Masih tega nyiksa makhluk paling lucu sedunia ini lagi? Nggak puas ngebunuh yg udah2?? Ya Allaah, yang dengerin tu kucing nangis seharian bukan Wike, tapi orang2 yg ada di rumah. Lo mungkin berangkat pagi, pulang hampir larut malem. Nggak tau seberapa tersiksanya tu kucing dikurung seharian dalem kandang. Untel2 sama pipis dan kotorannya, kelaperan dan kehausan, nggak bisa bebas lari2an padahal dia masih kecil mungil, yang seharusnya masih asik maen lari2an bukannya terkungkung dlm penjara.
Dia nangis bener2 seharian, wikee... gue nggak kuat dengernya. Tapi gue harus belagak cuek dan nggak nyamperin, karena gue udah nggak bisa lagi deket2 kucing karena skrg udah ada Kalum. Gue nggak mau ntar ada penyakit yg numpang tenar sama gue trus pindah ke Kalum. Gue cinta kucing, tapi gue lebih cinta kucing gue (si Kalum pus meong krrr krrr...)

Dan lagi pula juga pun, gue nggak mau kaya' dulu2. Kalian semua cuma seneng punyanya, tapi yg pusing ngurusin cuma gue sendiri. Kalo sekali gue ngurus, gue takut attached dan akhirnya biar sebel2 tetep aja nggak bisa nggak ngurusin tu kucing krn udah terlanjur jatuh cinta. Selalu kaya' gitu, sekarang enggak enggak dan enggak!!!

Tapi, Tuhan, nggak kuat juga tiap hari liat wujudnya yg cantik dan lucu kaya buntelan kapas, denger tangisan bayinya, tau bahwa dia ada dan tersiksa tapi gue nggak berbuat apa2.... gue bahkan gak mau ngasih nama, biarpun cuma dalem hati.
Wikeee, pleeeassse.... kasihla kucing itu ke orang yg lebih qualified buat miara binatang. Yang punya halaman di rumahnya, yg punya banyak waktu utk ngajak main, yg punya banyak duit buat beli segala tetek bengeknya... Dia mahluk idup, bukan boneka yg bisa cuma dinikmatin kelucuannya tanpa dipenuhi nafkah lahir batin woooyy!!!
hhh.....

15 Des 2008

It's a brand new Bibik


Sungguh nggak enak memecat orang. Dan gue nggak pernah nyangka akan berada pada posisi itu, berhubung jabatan gue toh nggak pernah sampai taraf bos di kantor. Lupa kalau di rumah gue sekarang sudah menggunakan jasa seseorang untuk bantu2 beresin rumah. Yah, meski pun gue pribadi nggak suka menyebut diri gue 'majikan', tapi kenyataannya memang gue berada di posisi itu. Yang artinya, gue memiliki otoritas untuk memberi tugas, mengarahkan, dan tentunya... memecat :(

Lucu sebenarnya, hak2 lain seperti memberi tugas dan mengarahkan, hampir nggak bisa gue rasakan selama memekerjakan dia. Soalnya, si mbak yang satu ini lumayan menggemaskan sifatnya >_<>nggak suka kalo disuruh2. Busyeeett...!! Kalo gitu kenapa nggak ngelamar lowongan laen aja mbak, jadi direktur mungkin? Dan alesannya tuh ternyata karena dia sebel, temen2nya sukses semua. Ada yang jadi pengacara, ada yang jadi PNS, dll, cuma dia doang yg jadi PRT. Lah.....salah gue...??? Padahal, didikan keluarga gue tuh kita nggak boleh maen asal suruh sama PRT. Kalo nggak bener2 terpaksa dan darurat, usahakan kerjain sendiri, jangan nambah beban kerja di luar job desc. Bahkan kalo perlu kerjaan dia kita ringankan. Trus kalo pun mesti minta tolong, harus pake tata krama, penuh penghargaan terhadap sesama manusia. Jangan pernah anggap mereka seperti pembantu, tapi lebih seperti saudara sendiri. Dan buah dari pendidikan yang luhur ini adalah...... para pembantu yang ngelunjak! HOREEEEE!!! :( Tiap kali si mbak lagi kumat kurang ajarnya, duuhh, pengenn rasanya mecat dia di tempat saat itu juga!! Tapi yang bisa gue lakukan pada akhirnyaaa...cuma narik napas dalam2, berharap kesabaran gue dipanjangkan.

Berdasarkan itulah, maka, diputuskan dengan suara bulat lat lat (dengan responden terdiri dari: hati gue, pikiran gue, napsu gue, dan sisi gelap dari diri gue) bahwa mbakyu yang menggemaskan ini dengan segala rasa hormat, harus diberhentikan secara sangat terhormat. Tapi........oh-oh..... ternyata nggak semudah yang dibayangkan.... gue spe
cchless saat harus memilih kata2, dan memandang matanya yang menatap nampak berusaha terlihat biasa. Tuhan, sesungguhnya gue nggak sampai hati memutus tali rezeki manusia di hadapan gue ini, tapi gimana? PRT yang baru sudah dikirim dari Martapura, PRT yang bisa nginep dan semoga makin memudahkan gue dalam beraktivitas, bukannya malah bikin makin pusing.

Mbaaak...mbaak.... seandainya aja sifatmu nggak selucu ituu... sudah lama mbak yang aku pinang untuk jadi PRT yang nginep di rumah. Yaahh, apa mau
dikata, diri kita sendiri juga yang menentukan nasib kita.

Semoga bibik yang baru ini
lebih tau diri, bisa saling menghargai, tulus, dan nggak perhitungan dalam bekerja. Semoga gue panjang jodoh sama beliau, amin... *kaya doa buat rumahtangga giniii gueh*

...dan Diah pun menikah :' )


Bisa dibilang, gue termasuk orang yg paling tau sejarah percintaan Diah, sejak pertama masuk Metro, keluar Metro, sampe masuk lagi dg jalan yang mendaki dan berliku, halah! Dari curhatannya tentang cowok yg lagi deket tapi status nggak pernah diperjelas, akhirnya kepincut sama anak switcher yg diaku-aku mirip kakak kelasnya dulu, akhirnya pacaran, nempel terus di kantor sampe jadi pasangan yg paling melegenda seMetro, gak direstuin orangtua, kakak adek, tetangga dan pembantu, dan akhirnya..... singkat cerita (males nyeritain detilnya, nggak menarik kok, sodara2) ternyata Tuhan kasian juga sama makhluk yang mirip2 dodol ini... dan Diah pun menikah di tanggal 14 Desember 2008. Tanggal yang sama percis sama tanggal pernikahan cowok yang nggak jelas statusnya di awal masuk Metro dulu, sungguh berjodoh kalian, jodoh tanggalnya maksudnya... kawinnya masing2 sama orang laen :P iyalaah, masa mo joint partner??

Dan sebagai orang2 yg selalu kelaparan dan norak sama makanan yg beda sama kafe Metro, serta haus akan hiburan, berbondong2lah anak graphic menyerbu pesta pernikahan Diah. Nyaris lupa sama inti acara itu sendiri dan tuan rumahnya, seru sendiri sama kamera yg segambreng. Yahhh... keluarga besar graphixity, sekarang bertambah besar lagi dengan bergabungnya Ari (kita anggep sodara tiri jauh aja ya, Ri). Semoga segera diramaikan lagi dengan junior yang tergress dari kalian berdua...^_^




info wedding Diah & Ari yg gue bikin, ciyeee....




















manusia2 gak tau diri yg asik jepret sana-sini, bikin pesta di dalam pesta!!





















formalitas...foto bersama pengantin.
penganten dah kaya bunglon, nyaru sama begron....

5 Des 2008

You're soo...%#&@!!

Hebat. Bagaimana kebersamaan bisa membuat orang saling mengadaptasi sifat satu sama lain. Bahkan kadang jadi bertukar kepribadian. Di saat aku berjuang belajar mengenyahkan sifat sarkastik dan berusaha keras menghindari gaya bicara yg sinis, terutama saat kita lagi bertengkar, di saat itu pula kamu dengan sukses mengadopsi sifat itu.

Aku hanya ingin membiarkan rasa marah kita berlalu. Sakit karena kata2mu ini mungkin akan sembuh, seperti biasanya, betapapun terlukanya saat ditorehkan, tapi pada akhirnya yg kuinginkan hanya memelukmu. Kenapa rasa untuk kamu ini begitu besarnya, hingga semarah apapun aku, aku tidak bisa tidak merindukanmu? Dan satu lapan enam yg tertulis seakan secara formalitas itu, yg kadang terucap kasar itu, sesungguhnya tidak mengurangi makna aslinya sedikitpun.

Satu lapan enam.

2 Des 2008

Selamat datang kembali teman-temanku :)



Setelah Purie yang tadinya magang berabad2 yg lampau dan akhirnya jadi karyawan di graphic beberapa mingu yang lalu, hari ini diah yang udah keluar 8 bulan lalu masuk lagi ke ruangan yang apek ini.. makin apek deeehh, hihihi...
okelah girls! mari kita menggila!!

Kalum



Kenapa ‘Kalum’? Jawaban sederhananya karena gue jatuh cinta sama bagaimana nama itu terdengar saat diucapkan….”Kalum…”.

Gue cinta sama nama yang mengandung huruf ‘U’, terutama kalau huruf itu terletak di suku kata terakhir. Terdengar keren, unik, dan lebih Asia.

Begitu tau arti dari nama itu adalah ‘merpati’, senyum gue makin melebar. Wooww…sempurna!! Merpati adalah simbol dari 2 hal yang paling gue cintai di dunia; kesetiaan dan perdamaian. Dan sebagai penggila romantisme kehidupan, bukankah merpati mewakili satwa dalam dunia seni? Sebagaimana gue mengagumi hal-hal yang spesial lainnya karena beraroma romantis. Kereta api, pantai, warna jingga pada senja hari, sampan kayu kecil, hujan, riak air, bulan sabit, musim gugur, ujung pena….maka merpati di mata gue mewakili genrenya, satwa yang puitis.

Tapi andai pun nggak ada semua makna itu yang mengiringi nama ini, sebenarnya nggak akan mempengaruhi apa-apa. Gue akan tetap suka, gue akan tetap menerakannya di akte kelahiran sang malaikat kecil, dengan catatan tidak berkonotasi negatif.

Dan berhubung Kalum adalah anak lelaki pertama dari suami gue, dan suami gue anak lelaki pertama dari bokapnya, so... dialah sang penerus pertama, pembawa nama keluarga pertama, yang menarik garis lurus tepat ke namanya di atas papan silsilah. Jadi gue abadikan nama para lelaki utama di keluarga Kalum. Nama papahnya Mbul, nama papinya gue, dan nama belakang si gembul (Asmara). Maka dialah Y****r Kalum Asmara.

8 Nov 2008

Sampai bertemu lagi Pt.1

keluarga meong di atap sebelas sblm renov

Kenapa? Kenapa nasib kucing yang berhubungan sama keluarga ini selalu berakhir tragis? KHE.. NNHAA.. PHUAAA...??!! Padahal satu rumah isinya pencinta kucing semuah...

Kucing pertama saat gue baru berumur 4 tahun: UNYIL
Dipiara di rumah asrama polisi di daerah Tanjung Priok, Jakut. Betina, masih ABG, bahkan bisa dibilang masih piyik banget. Eh, diperkosa sama kucing bandot deket rumah, tekdunglah dia. Pas mau lahiran, berhubung masih di bawah umur, jadi susah banget. Mami gue nemenin proses kelahirannya sambil nangis tersedu2. Akhirnya Unyil mangkat dengan syahid, karena mati saat berjuang melahirkan anak2nya :'/



Kucing kedua saat gue kelas 2-3 SD: BOING

Pulang dari acara pengajian di rumah guru ngaji gue (buat sunatan anaknya kalo ga salah. penting gak seh ni informasi?), pulanglah kita beramai2 jalan kaki. Gue, Wike, Cais, dan om Udin (PRT gue yang pernah kerja barengan sama bibik Wati juga). Eh, dalam perjalanan, ada seekor kucing item putih super montok yang ngikutin kita sambil mengaum-ngaum. Hiii, lucuuuu'.....banget!! Eh, taunya dia ngikutin sampe di rumah!! Padahal lumayan jauh lho, jaraknya! Akhirnya dipiaralah si montok, di rumah dinas papi yang halamannya super gede depan belakang itu, di kabupaten Tapin, Rantau, Kalsel. Dan sama om Udin, si montok yang berjenis kelamin cowok itu dikasih nama Boing. Hehe, cucok...!

Tapi beberapa lama kemudian dia dijadiin kambing hitam atas sakit asma adek gue. Akhirnya dengan berat hati Boing dibuang yang jauh ke pasar. Sedihh... T_T
Tau2, beberapa minggu kemudian Boing nongol di teras rumah!! Konon, binatang piaraan punya intuisi yang sangat tajam untuk nemuin jalan pulang. Badannya yang dulu montok jadi kurus. Orang rumah bingung, kangen, tapi nggak bisa nyuruh Boing masuk. Akhirnya setelah beberapa hari ngedeprok di teras dan dicuekin, Boing tau diri. Dia ngerasa kehadirannya udah nggak diinginkan lagi di rumah itu. Pada suatu hari, menghilanglah dia, pergi entah kemana.......


Kucing ketiga saat gue kelas 4-5 SD: DIME

Ini dia kucing paling jagoan dan self centered!! Hehehe... Dengan PDnya dia langsung mengklaim diri sebagai kucing keluarga Kapolres Kuala Kapuas begitu kita nempatin rumah dinas papi di Kapuas, Kalsel, itu.
Semua kucing yang berani2 deketin rumah papi, diajak berantem sama Dime. Dan emang hebat kucing gue nih, menang mulu! Sering pulang dengan bulu2 berantakan, luka di sana sini, tapi teteeep...dengan tampang senga'nya. Saking ngerasa jagoan, dia paling ogah kita gendong2, kesempatan bisa gendong2 dia sampe puas cuma pas dia baru bangun tidur pas masih lemes.

Hobi banget yang namanya nebarin e'eknya di seluruh penjuru rumah. Tamu2 penting papi sering banget kedudukan tokainya di sofa ruang tamu. Kalo udah gitu, mami langsung ngomel2, bibik pun tanggap dan nguber2 Dime pake sapu ijuk, tinggal Dime lari tunggang langgang, dan kalo udah terpojok langsung dia keluarin jurus andalan: matanya pura2 picek2 sebelah minta dikasianin sambil kaing2 gitu suaranya, fufufuuu....

Dime ini nyadar banget kalo gue manjain. Doyannya keju sama susu. Kalo dikasih ikan asin, hmmh... EMOH!! Dikasih nasi juga melengos. Buset dah... yah mo gimana, hasil didikan gue juga sih. Pernah gue dimarahin mami abis2an gara2 udang lauk buat menjamu tamu pejabat di rumah, gue kasih ke Dime, xixixiii....gue pilih yg paling gede2 lagi! Tinggallah yang kecil2nya buat para tamu.
Si Dime ini kucing cowok yang masih muda. Bodinya pas. Warnya item putih juga. Dikasih nama Dime, singkatan dari Desi Mike, .... halah! Maklum masih kecil, gak kreatip.

Pas mau pindah ke Bandung, gue ngerengek2 minta dia dibawa. Mami gak ngasih ijin, karena di pesawat kan gak boleh bawa binatang. Gue nyaris bunuh diri saking desperatenya ngebayangin bakalan pisah sama Dime. Mana pas mo berangkat ujung kupingnya pake digunting dikit lagi sampe dia nangis2 lari ke kolong rumah saking stressnya. Katanya sih tu darahnya buat diolesin ke adek gue buat syarat, biar mulutnya nggak bawel lagi.

Eh, surprise! Pas mo berangkat Dime diajak, dimasukin ke dalam kardus. Duh kasian sbnrnya, tapi demi nggak pisah sama Dime, gue setuju. Gue pangku terus tu kardus sepanjang perjalanan, ada lobangnya dikit buat Dime napas. Kadang gue denger suaranya mengeong2 lemah. Kasian bgt, kekurangan udara, kali. Sampe Bandung, di bandara gue keluarin dari kardus. Hueee... Dimeku lemes berat..... Tapi lumayan jadi bisa dipeluk2 :P

Selama beberapa hari numpang di rumah para om2 dan tante2 di Margahayu Raya, Dime bikin ulah lagi. Masa' dia ngajak berantem si Manis, kucing rumah itu? Si Manis akhirnya kabur dan gak balik lagi, pdhl dia kucing rumah itu selama bertahun2. Duuh...apakah si Dime ini salah asuhan sama gue ya? Malu2in banget, udah numpang, yang punya rumah malah diusir.

Gak lama kita dapet kabar kalo papi jadinya dipindahin ke Jakarta lagi, nggak jadi di Bandung. Jadilah kita berangkat ke Jakarta semuanya, termasuk om2 dan tante2. Pas di perjalanan....... shoot! Kita baru nyadar kalo Dime ketinggalan!!
Gue uring2an minta balik lagi, atau paling enggak ada yang jemputlah! Tapi permintaan gue dianggap konyol. Siapa yang mau jemput seekor kucing?

Akhirnya setelah beberapa hari pada nginep di Jakarta, om2 dan tante2 gue balik lagi ke Bandung, dan mengirimkan kabar buruk. Dime wafat, terkurung di dalam salah satu kamar. Kelaparan...
As i wrote this story, i couldn't help but cry, imagining the picture him dying.... missing him....... wishing, if only......................



Kucing keempat, bersamaan saat piara Dime: BERLIN

Sebentar banget piara anak kucing imut warna kuning ini. Dinamain Berlin, karena dia BERsih dan LINcah... *another jayus name..* betapa bangganya gue suatu hari pas nonton Dunia Dalam Berita, liat ada sebuah tembok bernama Berlin di Jerman! Hebat oi, samaan sama nama kucing gue!! V^o^
mo tau gimana berakhirnya nasib Berlin? Suatu hari gue ingin mempersatukan Dime dan Berlin, karena gue pikir, Dime kan lebih tua, tentunya dia bakal bersikap lebih kekaka'an kalo sama kucing yg lebih kecil. Jadilah hari itu di kamarnya om Udin gue persatukan mereka di bawah kolong tempat tidur. Dime lagi di bawah kolong, Berlin gue masukin ke dalem juga sambil cekikikan ngebayangin gmn perkenalan mereka.

Betapa kagetnya gue begitu Berlin masuk kolong, Dime langsung ngamuk! Gue cuma bisa tercekat, nutup mulut, dan nggak sanggup bergerak sedikitpun saat Dime keluar dari dalam kolong sambil gigit Berlin di tengkuknya. Mamiii.... begonya gue, nggak ngerti kalo mempersatukan kucing cowok dewasa dengan anak kucing tuh tabu bgt! Maafin gue ya, Berlin... Gue nangis dan laporan sama Wike hari itu, dan berusaha menghapus memori ini dari catatan hidup gue, meskipun jelas mustahil.


Kucing kelima saat gue kelas 1 SMU: no name
Nggak ada yang terlalu istimewa dengan kucing yang satu ini. Kucing liar yang mampir ke rumah tiap ngerasa laper. Cuma boleh di teras doang, tapi kadang kalo nggak ada mami papi suka colong2 gue masukin juga. Cowok, udah rada tua, warnanya kuning, bulunya debuan mulu....
Begitu kita pindah dari Cirebon, dia ditinggal. Kita bahkan gak pernah kepikiran buat kasih nama. Tapi cuma dia satu2nya yang nggak berakhir tragis.




Kucing keenam saat gue kelas 3 SMU: LUNA
Sebenernya nggak bisa dibilang kucing keenam, karena selama di Jakarta gue sering banget yang namanya mungut anak kucing di jalan. Ada yang gue umpetin dalem lemari, ada yang di bawah tempat tidur, ada yg di bawah selimut, tapi semuanya gagal-dengan-sukses gue piara, berhubung ketauan mami alhasil dari para anak kucing yg jejeritan ngeong-ngeong mulu.

Pada suatu malam yang dingin, ada seekor anak kucing tergeletak di taman depan rumah. Bayangin, masih ada ari2nya!! Sama papi anak kucing itu langsung dibungkus dan dibawa masuk ke garasi. Selanjutnya kita2 yang rawat dengan bingung, masih merah banget bok! Di jidat tu kucing ada tanda kaya bulan sabit warna item, so... gue yang di genk kelas didaulat sebagai Sailor Venus, merasa ini sebagai takdir *dalam hati berpikir cemas, apakah gue ini bener2 Sailor Venus?*

Jadilah tu kucing gue namain Luna, mestinya sih kucing Sailor V tuh namanya Artemis, tapi Artemis warnanya item tanda bulan sabitnya putih, ini kebalikannya, so Luna aja lah...
Suatu hari Luna e'ek, sama Wike dicebokin. Matilah Luna. Pegimana nggak mati, nyeboknya dengan cara direndem pantatnya sampe perut ke dalem air di gayung!! Innalillahi wa'innaa ilaihi roji'uuunn...


Kucing ketujuh saat gue kuliah awal2: CHEETAH

Cheetah...., dikasih nama cheetah karena emang mirip banget cheetah. Bedanya kalo spesis cheetah beneran kakinya panjang langsing, yang ini bogel. Masih balita, bodi bulet, ramah tamah sifatnya. Dibeli sama Wike di pasar blok M. Sumpah, ni kucing satu lucu banget! Awalnya kita miara ngumpet2 ditaro dlm kamar. Kalo mami masuk, Cheetah kita taro di antara boneka2, mami yang curiga denger ada suara kucing memindai seisi kamar dengan tatapan FBI-nya yg udah well-trained.

Tapi you know what? Meskipun mami udah liat, tapi dia tetep gak ngeh kalo itu kucing idup! Si Cheetah udah disempel2in dalem tumpukan boneka palanya malah bengak-bengok, berhubung mami nyangkain dia boneka juga, selamatlah Cheetah dari amukan mami *yang trauma miara kucing karena takut anaknya ada yg kumat lagi asmanya & juga krn trauma sedih kalo pisah sama kucing piaraan lagi*

Begitu akhirnya ketauan, mami nggak bisa marah, krn Cheetah bisa ngambil hati numpang disitu. Kalo mami jemur baju di loteng, Cheetah bantuin jemur... kekekee... enggak deng, Cheetah ngejar2 ujung daster mami sambil diajak duel dasternya. Kalo kita baca majalah, Cheetah lompat ke ntu majalah dan nongkrong di sana tanpa ngerasa berdosa, apalagi kalo lembar majalahnya kita balik trus niban palanya, huaaahh... makin doyan dia!

Kalo ke-gap e'ek di kamar, tadinya lagi mindik2 jalan pake 2 kaki depannya (bayangin! kaki belakangnya diangkat ke depan gitu! aneh bgt gue liatnya..), langsung buru2 jalan mundur *tetep dg style kaki belakang ngangkat ke atas, jalan pake kaki depan!* dan ngedeprok di atas e'eknya buat nutupin! Dia pikir gue belom liat dan dia pikir gak kliatan kali yah?! Kalo bobo' maunya di atas dada kita. Hobinya jilat2in orang tanpa sebab musabab yang dibenarkan oleh UUD 45.... pokoknya semua kelakuannya bisa bikin seisi rumah terhibur tiap hari!

Tapi tau2 Cheetah nggak bisa pup. Mungkin gara2 kita kasih nasi, padahal dia masih terlalu kecil, atau mungkin juga krn dia kucing hutan jadi pencernaannya nggak cocok sama nasi. Yg jelas, berhari2 tubuh mungilnya ga bisa ngeluarin pup. Perutnya makin bulet, kita malah ngerasa lucu bgt liat bodinya kaya gitu. Belom lagi kalo Cheetah dikit2 ambil posisi ngangkang dan ngeden, kita malah ketawa2 karena lucu bgt liatnya, apalagi kalo dg susah payah gitu yg keluar cuma kentut...pecahlah tawa terbahak2 seluruh penghuni rumah. Yaa Tuhan, betapa berdosanya kami semua, di balik wajah lucunya itu Cheetah sbnrnya tersiksa banget. Dia mules krn perutnya penuh, tapi ga bisa ngeluarin. Kita sempet kepikiran mo bawa ke dokter hewan, tapi takut keluar karena waktu itu lagi kerusuhan Mei.

Akhirnya suatu pagi, gue terbangun, liat Cheetah tidur deket kotak sampah, perasaan gue nggak enak. Gue samperin, gue liat matanya setengah merem, tapi dari matanya yang terlihat ngintip sedikit dari kelopak matanya itu... gue merasa nggak melihat sinar kehidupan lagi.
Gue panggil2, gue goyang2, Cheetah yg biasanya langsung terbangun dg ceria dengan hobinya menghibur orang itu, kali itu nggak bergerak. Gue teriak ke semua orang rumah. Kita semua panik, kita semua nangis, menyesal, nggak melakukan apa2 untuk mengusahakan kesembuhannya...

Akhirnya kita kubur Cheetah di pojok taman depan rumah, diiringin airmata... yang masih tetap belum mengering sampai hari ini...maafin kami ya, Cheetah...


Kucing kedelapan, nggak lama setelah Cheetah 'pergi': BLOKSI

Mungkin untuk menebus kesalahan, mungkin juga karena dulu belum cukup puas dengan sosok Cheetah, akhirnya Wike beli lagi anak kucing hutan di pasar. Kali ini bener2 mirip big cat Cheetah beneran, karena bodinya ramping dan kakinya jangkung. Tapi yang ini cowok. Karena di kampus lagi ngetren kalo ngatain orang 'goblok' jadi 'bloksi', gue abadikan kata itu jadi nama ni kucing.
Tapi sifatnya bener2 bertolak belakang sama Cheetah yang ramah dan lucu. Bloksi nih, gaharnya amit2! Mendengus2 ngancem mulu, trus kalo ditaro di kandang bolak-balik dari ujung ke ujung dengan stressnya, sambil idungnya nyodok2 jeruji sampe idungnya luka dan berdarah. Kalo dilepas, langsung kabur dan ngumpet ke tempat2 yang ga terjangkau. Gue udah kenyang ditancepin kuku plus taringnya dia.

Makanya, meskipun susyah payah, udah sebuah pencapaian yang gemilang saat gue bisa masukin tangan ke dalam kandangnya (tanpa pake sarung lagi) dan dia diem aja, nggak gigit atau nyakar gue seperti biasa. Bahkan dia nundukin palanya pas gue mo ngelus.
Tapi bukan berarti dia udah jinak. Bloksi sempet sok2 kabur dari rumah. Akhirnya dia balik lagi, dan yg biasanya dia kabur kalo liat kandangnya, ini malah buru2 masuk dg sukarela begitu kita sodorin tuh kandang. Tampangnya ketakutan banget. Kayanya dia stress sama dunia luar, & begitu liat kandangnya dia ngenalin, "Seancur2nya ternyata mendingan di sini, deh.."

Hobinya tidur dalem mesin mobil Cais. Susah banget nyuruh dia turun dari situ. Suatu hari mobil mo dipake, tapi Bloksi ngga mau diusir dari atas mesin. Lah, masa iya mesti jalan2 dengan kucing di dalem kap mesin?? Akhirnya gue semprot Bloksi pake selang air, Sroooott!!! Lari tunggang langganglah dia...tapi keluar pager! haduuuhh...!!
Wike langsung panik, takut Bloksi nggak balik lagi. Gue bilang, "Tenang aja, kemaren juga sempet kabur tapi balik lagi kan?" padahal jantung gue udah gemeteran tuuuh...
Beberapa hari Bloksi nggak juga menongolkan ujung2 kumisnya...beberapa minggu juga... akhirnya kita berkesimpulan, Bloksi kaburnya kejauhan dan ga ngerti jalan pulang. Ah bloksi banget sih?! Mestinya binatang kan punya intuisi yg tajem, kayak Boing gitu kek...

Beberapa taun kemudian gue baru tau nasib Bloksi, pas ada anak cowok dari gang sebelah kenalan sama gue, ternyata beberapa taun yg lalu dia yg nemuin Bloksi dalem selokan. Dibawa pulang ke rumah, tapi Bloksi nggak mau makan sama sekali, dan akhirnya mati... T_T
Semenjak itu, gue menolak tiap kali Wike nawarin mo beli anak kucing hutan lagi. Kasian, mereka direnggut dari pelukan induknya, hanya utk dibawa ke tempat manusia yg gak ngerti gimana cara yg bener miara mereka. Jangan pernah beli hewan liar, tempat mereka bukan di rumah kita....


Kucing kesembilan & kesepuluh, jaman kuliah pertengahan menjelang akhir: JOYCE & ESTHER
Hadiah dari pacarnya Cais saat itu, 2 anak kucing peranakan persia vs kucing kampoeng. Jadilah Joyce dan Esther. Awalnya bodi mereka terlihat sama imutnya. Makin kesini makin jelas, Esther gagah dan proporsional, Joyce bogel kaya bola bekel..apa bola salju ya.. *pdhl dia yg cowok*.

Esther putih bersih, dengan ekor berkibar2 kebanggaannya yg selalu dimandiin sampe kebanjiran sama ludahnya dia, Joyce warna kuning keemasan dengan buntut pendek melingker bulet, persis ekor kinci! Esther kalo lari persis kucing panther yang gagah & anggun, Joyce mo jalan mo lari selalu kaki depan bersamaan kaki belakang bersamaan, dg kata lain.. gaya kelinci lari! Esther saking gesitnya kadang mo kepeleset dari tangga, cakarnya langsung kokoh mencengkeram karpet dg sebelah tangan, gelantungan gaya stuntman, akhirnya loncat lagi naik ke atas dengan penuh style. Joyce sok jago jalan2 di pinggir railing, akhirnya jatoh dari tingkat 2 tanpa perlawanan...-PLUK!!- sukses mematahkan tulang punggungnya, diurut sama nenek2 tukang urut, Joyce nangis2 & nyakar2 sampe bikin tu nenek kapok ga lagi2 ngurutin kucing.

Gara2 itu kali pertumbuhannya jadi ga maksimal. Tapi kelebihannya Joyce tuh ramah banget sama siapa aja, hobi ngobrol, dan mukanya maniiiisss....banget. Kalo Esther galak, tapi jenius & adventurer, bisa ngobrol sama cicak pake bahasa cicak, suka menjelajah seisi rumah sampe pernah terperangkap di lantai loteng, hobi berantem sama kain pel yg lagi direndem di kamar mandi...

Sayang, krn pertumbuhan Joyce berhenti di sentimeter kesekian, bikin Esther jadi lebih panjang bodinya. Walhasil mereka ga pernah sukses kalo mo kawin. Abis Joyce maksa mo sambil gigit lehernya Esther, ya gak nyampe dong bagian bawahnya, Jo'!!
Tapi...berhubung kutu2 mereka bikin orang serumah borokan gak sembuh2 & duit abis berjuta2 buat biaya dokter kulit, akhirnya kita harus rela ngelepas mereka berdua utk dititipin ke orang laen. WAAAANGGG....WAAAANGGG.... ~^O^~


Kucing kesebelas, keduabelas & ketigabelas, saat gue udah kerja di Metro: NAMA2NYA LUPA EUY...

Udah berhari2 ada induk kucing yang naro anak2nya yg baru lahir di tong sampah tetangga depan. Suatu malem ujan lebet banget! Suara ngeongan bayi2 kucing makin menjadi2. Gue buru2 turun dan keluar, payungan nyamperin tong sampah itu. Gue liat mereka kuyup disitu. Langsung gue angkat satu persatu anak2 kucingnya. Satu gue keluarin, taro di samping tong sampah sambil susah payah mayungin diri gue dan bayi kucing yang dah keluar. Satu lagi gue keluarin... eeehh, tiap gue keluarin satu, induk kucingnya langsung loncat keluar dan sibuk mindahin anak kucing yg udah gue keluarin masuk lagi ke dalem tong sampah! Jadi gue keluarin satu, dia masukin satu, gitu terus!! "HOII! gak kelar2 kalo kaya' gini!!" hardik gue.. akhirnya gue raup semua bayi dan langsung kabur ke rumah. Induknya lari2 ngikutin gue di belakang dengan tampang panik. Dia pikir gue mo nyulik anak2nya apah..?!

Gue taro mereka di pojok deket garasi, gue kasih kain2 biar hangat. Akhirnya malam itu keluarga kucing nginep di depan garasi rumah. Gue pun bisa tidur dengan tenang.
Paginya, induk kucing pergi buat nyari makanan. Balik lagi siangnya buat nyusuin bayi2nya. Sore pergi lagi, malem balik lagi. So besokannya, begitu pagi gue liat si induk gak ada, gue pikir nyari makan seperti biasa. Taunya sampe malem dia ga nongol2 lagi!

Sampe besokannya masih ga nongol... duh mampus, pasti dia kabur karena anaknya udah bau tangan manusia! Jadilah gue yang ngurus bayi2 yg masih merah ini. Gue kasih susu bearbrand pake pipet, kadang mereka ngenyot2 tangan gue..sedih bgt kalo udah gitu, pasti mereka kehilangan puting ibunya. Kalo pagi selalu gue jemur biar sehat, dan perlahan2 satu persatu mata mereka mulai terbuka...aiiihh, lucu2 sekali bayi2 kucingku... mereka mulai melangkah tertatih2, dan kita mulai apal suara mereka masing2.

Tapi gue jadi serba susah, ga bisa pulang telat & pergi kemana2 karena harus selalu ngurusin mereka. Lama2 duit gue juga abis mestibeli susu bearbrand yg mahal, akhirnya susu gue ganti pake susu bubuk biasa. Oh God, kesehatan mereka merosot drastis. mereka ga suka rasanya dan mungkin gizinya jg ngga sebagus bearbrand.
Akhirnya mereka mati satu persatu. Yaa Tuhan, gue bener2 ga sanggup saat harus nyaksiin bayi terakhir yang bener2 narik nafas terakhirnya di depan mata gue. Lagi2 gue udah membunuh makhluk2 yg justru paling gue cintain ini...
mereka bener2 bikin gue bersumpah utk gak mau piara kucing lagi, gue nggak mau jadi pembunuh lagi......


Setelah mereka...
Ngga ngerti ada daya tarik apa rumah gue, yang jelas selalu aja jadi tempat penitipan dan pembuangan anak2 kucing oleh induknya. Tapi gue bener2 bertekad ga mau nyentuh mereka lagi, demi kebaikan mereka sendiri sbnrnya...

Sempet ada 5 anak kucing untel2an depan garasi. Gue berusaha nggak mau tau gimana akhirnya proses mereka disingkirin dari situ.

Dan yang bener2 kejadian baru2 ini... ada 4 ekor anak kucing ditaro emaknya di depan garasi rumah gue, trus dipindahin lagi ke teras atas rumah nyokap. Kayaknya mereka betah disitu, sampe berminggu2 mereka nggak pindah juga.
Berhubung anak2 kucingnya pada pup dan pipis di situ, jadi aja tu teras bau dan kotor. Mami mulai protes, takut ada penyakit yang hinggap kalo terus2an dibiarin. So, suatu hari papi mindahin anak2 kucingnya ke tempat yg jauh pas induknya lagi pergi, karena papi takut kalo ada induknya bakal ngamuk dan nyakar. Ya Allah, papi, kok tega banget sih? Apa nggak cukup dosa kita sama kucing2 yang dulu? Akhirnya pas induk kucingnya balik, dia kebingungan kehilangan anak2nya. Tiap hari dia nangis meraung2 di situ sampe hari ini, ngendus2 teras terus, berharap anak2nya balik lagi... :'(
Gue nggak sanggup denger suara tangisannya... bener2 bikin gue ngerasa berdosa, kenapa gue ngga pesen lebih awal ke org rumah biar gue aja yg mindahin keluarga kucing itu tanpa harus misahin mereka...

untuk semua kucing yg pernah singgah dalam kehidupan keluarga gue, gue bener2 kangen dg kalian semua, sampai bertemu lagi...
jangan tuntut gue yaaaa di akherat...!!!

7 Nov 2008

Selamat hari lahir, miiii, maaahh!

Hari ini aslinya Jumat 7 november 2008. Jangan percaya sama setelan jam di blog ini! Masa' telat sehari, sih? Huh... *nggak nyadar dirinya sendiri yg gaptek nggak ngerti cara benerin setelan jam di settingan*

Hari ini hari lahir mami, bundaku, sahabat sejatiku, salah satu kepingan puzzle hatiku, pahlawan hidupku, panutan dalam segala2nya.... hari ini, menurut tahun masehi, mami genap berusia 56 tahun. Yaa Allah, bahagiakanlah ia di masa senjanya ini, terutama kebahagiaan yang datang dari kami, anak2nya.

Seringkali mami menatap penuh kerinduan akan masa datang ke arah cucu2nya, Kalum dan Almer, sambil menggumam, "Sempet nggak, ya, Mami nganterin mereka nikah nanti?"
Sebenernya ada kesedihan yang gue rasakan tiap mami ngeluarin pertanyaan itu, tapi selalu gue sahut dengan gaya sok cuek untuk menepis rasa takut gue, bahkan gue bikin lebih bernada tegas dan riang, "Iyalah, Mi! Amiiin... Nanti Kalum nikah, mami yang ngiringin di sampingnya..."
"Amiiin, mudah2an sampai ke sana, dalam kondisi sehat. Kalo nyampe tapi penyakitan mami nggak mau juga! Wakakakaaa...!"
Ah, cuma 2 suara tawa yang paling merdu di dunia ini, suara tawa Kalum dan suara tawa mami. Begitu pun, gue justru masih sering jadi sumber pemicu jatuhnya airmatanya. Gue yang ketus, yang suka keras kepala,...... semoga Allah mengampuni segala dosa gue terhadap manusia paling mulia ini, dan semoga ke depan gue nggak lagi jadi salah satu penyebab kesusahan hatinya. Selamat hari lahir ya, mi.

Besok, Sabtu 8 November 2008, adalah hari lahir mamah, bundanya gembulku. Hehe, jodoh banget yak?? Udah tanggal lahir cuma beda sehari, sifatnya sama persis, kelakuan & gaya2nya kembar, cara mikirnya fotokopi, duh... lucu banget sama mereka berdua ini. Sama2 polos, tulus,
loveable, kocak, rame, nggemesin, perempuan serba bisa, pokoknya they're the most lah! Met hari lahir juga ya, maah... besok insyaAllah kita bertiga dateng ke Pondok Bambu, yaaa... ! jangan lupa pesenan si gembul, anakmu, ya maah, masak jengkol balado...



4 Nov 2008

Pinterrr bobo' cendiyiii :D


ooowwh..pinternya Kalumku ^0^ udah 5 malem ini bobo' sendiri! dalem artian bisa tidur dengan kemampuan sendiri, hehehe, tanpa digendong2 pake selendang & dinyanyiin lagu 'Donna Donna' seperti biasanya * bobo'nya sih tyeeteep di samping gue ;p *

udah capek seluncuran sama babywalker, udah capek ketawa ketiwi ngoceh2 tatah-eh'eh-aaaayayaya!!, udah capek ngemutin semua mainan-jari2 tangan kaki-kerah baju sampe banjir semua, udah capek glung2 sana glung2 sini..... akhirnya dia mulai ngucek2 mata n sedikit rewel. yeao! pertanda dia dah ngantuk.

biasanya dia langsung mengeong2 dan manjatin badan gue minta digendong pake selendang. eh ini enggak loh! gelundung2an dikit ke kanan dan ke kiri, mata kriyep2, gue pancing2 sedikit dg tampang gue yg distel beler, dia mulai terhipnotis, gue usep2 punggungnya, dan akhirnyaa...... HURAAAA!!! tertidurlah malaikat kecilkuuu... dududuuu.... anak pintaaar!!

dengan setelan gaya tidur nyamping, dan sepanjang malem tetap melakukan hobinya gelundungan kesana kemari. kadang2 kalo gue kebangun buat nyungsepin dot, gue pergokin posenya udah nyangsang di atas guling, kadang idungnya tepat ngendus pantat papinya, dan yang paling sering adalah... nggelundung ke pelukan maminya :) ... Kalum paling nyenyak tidur di situ :))

3 Nov 2008

I feel weird without my wedding ring :' (


Udah berapa hari ya gue nggak pake cincin nikah? dari Sabtu? dari pas berantem sama Gembul... bukan gara2 berantem gue nggak pake, tapi emang mesti nginep di rumah mami, sedangkan tu cincin adanya di kamar gue. rasanya anehhh, banget. nggak enak. berapa kali ujung kuku jempol kanan gue nyundul2 ke pangkal jari manis, di mana tu cincin biasanya berada. berapa kali juga gue kaget, lah, ternyata gue lagi gak pake ya...
kenapa sih gembul keras kepala banget akhir2 ini? gue sedih bgt sbnrnya bertahan diem2an kaya gini, pdhl gue kangen bgt, pdhl gue pengen bgt ngurusin lagi..apalagi skrg gembul lagi sakit... uhhh...
tapi untuk kali ini aja, gue pengen dia tau kalo nggak bisa selalu nunggu gue yg mulai, nggak bisa selalu berpikir diri sendiri yg bener, sementara dulu dia sendiri yg nasehatin gue supaya bisa kaya' gitu. kenapa sekarang setelah gue berubah malah dia yg berbalik? hhh.... maaf banget, kalo akhirnya cuma jadi bumerang buat gue, mungkin mendingan gue balik lagi kaya' dulu aja kali ya?

31 Okt 2008

Bingung nih

Gimana ya, kantor gue mo ultah. Graphic bagian project butuh bantuan dari news, jadi gue disuruh pindah dulu kesana sementara, sampe ultah kelar. Duh, gue nggak PD, dan lagi gue juga males kalo mesti bawa PR pulang ke rumah. Enakan kaya' sekarang, pulang ya pulang... gak kepikiran apa2. Apalagi sekarang di rumah juga sibuk ngurusin Kalum. Uuugh.... ~^0^~

Pilihan dari bos Spv, gabung sama project sementara, atau tetep di news tapi ikut rolling shift lagi! Hayyahh!! Nggak ada yg enak pilihannya. Seandainya belom punya anak sih fine, ini gue bingung ngatur waktunya. Kalo mesti masuk malem, berarti gue mesti nitipin Kalum ke mami sampe jam 1/2 1-an... Ya ampun, kaya' yang masih kurang ngerepotin aja selama ini...

Spv udah nawarin sih, apa dia aja yg masuk shift, jadwal gue tetep. Hmmm... itu emang yang paling enak sih, buat gue tapinya. Kesannya kok kaya' mo enaknya sendiri banget. Kaya' kantor punya uwa' gue ajah...

BINGUUUUUUNG....!!!!!!!

29 Okt 2008

Tintin, i've got u nooowww!!!


SENEEEEENNGGG....!!!! gak sengaja nemu toko action figure di ITC Permata Hijau, mojok banget, ngumpet sengumpet2nya. (Mo dibeli gak sih sbnrnya?)

yg bikin jantung gue mo loncat keluar, tu toko gak cuma jual figur2 Jepang (standar bgt, banyak yg jual kl Jepang mah!), tapi ada juga figur2 Eropaaaa!!! Huraaaaaa!!! kulihat terpajang dg manisnya disitu, Tintin, Haddock, Dalton brothers, Asterix, Centaurix, Panoramix, Smurfs, dll, dll....... ooohhhhh...... *pengsan*

*tersadar lg buat lanjutin cerita* akhirnya berpindah tanganlah Tintin & Haddock ke tanganku, dan bangkrutlah gue sebesar rp. 160 ribu T_T.

Toko ini (yg namanya bakal ttp gue 'amankan', dg alasan takut diketahui para pemburu action figure lainnya *rugi dooong, ntar pas gue mo beli udah keabisan lagih!*), akan rutin gue kunjungin tiap bulan. Siapa tau buruan2 gue yg lain bisa ditebus satu per satu. jeus rimember, ail bi bek sun!!

26 Okt 2008

Selamat ulang bulan, merpati

Hari ini ulbul Kalum yang ke 8!! *bertepatan dg ultah Cais yang ke 33* alhamdulillah...ga nyangka Kalum udah gede aja. waktu seperti terbang. tau2 sekarang udah berseluncur kesana kemari pake baby walker ^_^ udah doyan joget2, udah bisa minta gendong milih2.... luar biasa, nggak bisa digambarin apa yg gue rasain liat kelincahan dan kelucuan kucing kecil ini.

Yaa Allah, anugerahkanlah senantiasa kesempurnaan bagi buah hatiku. kesempurnaan dalam rupa, dalam akhlak, dalam iman, dalam kesehatan, dalam kecerdasan, dalam keutuhan.... ridholah terhadapnya dalam tiap tarikan nafasnya, dalam hidup dan matinya... perkenankanlah doa seorang ibu yang sangat mencintai putranya ini yaa Allah... ^_^-

24 Okt 2008

"muah!" buat Biby

Orang kata "Rejeki nggak kemana" itu bener banget yak? Gue sering banget ngalamin ini. Terakhir kejadian semalem, loh...
Ipar yang merangkap sahabat gue nyamperin gue yg lagi nyuci blender di dapur, sambil bawa 2 buah tas yang gue tau itu dibeli secara on-line. Belom sempet GR, dia udah bilang, "Ci, lo mau tas ini, nggak?" Whoaaa!!

Tas yang dimaksud itu yang satu adalah tas jerami berbentuk bundar gede, dengan model yg sangat cantik menurut gue. Dan tas itu tuuuh... sebenernya awalnya gue yang pesen. Tapi mengingat harganya rada mahal dibandingin tas serupa di situs lain, jadilah gue lebih memilih yang lebih murah *setengah harga!*. Tapi emang sih modelnya lebih simpel dibandingin tas yang Biby beli. Ternyata pas Biby yang beli, tas bunder itu pas lagi diskon *jadi 1/2 harga juga, bow T_T*, akhirnya terjadilah transaksi yang membuat gue sirik dan nyesel udah telanjur beli yang lebih murah.

Cuma aja pas nyampe Biby kaget, tasnya nggak mungil kaya' ukuran tas gue, dan bahannya ternyata bukan rajut, melainkan jerami. Sementara gue melonjak2 kagum dan ngiri setengah mampus. Lucu, tau, Biiiiy...!! Biby sih tetep suka dan waktu itu sempat menolak niat gue untuk beli tas itu dari dia.

Tas kedua semacam tas suede gitu, rada2 etnik Indian lah. Tau nggak, itu tas pernah gue tawar juga 1/2 dari harga aslinya *haha, doyannya 1/2 harga ajaaa....!!*. Tapi, ngueeeee, dicuekin sama yang jual ^_^" *jangan2 gue udah terkenal di kalangan seller sebagai pembeli 1/2 harga & telah diblacklist?!* Padahal gue naksiiirr...banget!
Nggak taunya bbrp waktu kemudian, pas Biby yg mo beli, eh tu harga malah lagi didiskon 60 %!!! Betapa beruntungnya Biby.....

Nah, sekarang, setelah tas2 itu berada di tangan gue, gue nggak tau deh siapa sebnrnya yang beruntung, Biby apa gue ya? --Mungkin semuanya ya? :) --
Gue jadi makin yakin, rejeki terkadang melalui jalan berliku untuk tiba di atas telapak tangan lo, dan hanya bergantung pada kesabaran and kearifan lo aja untuk membiarkan waktu membuktikan gimana sbnrnya rencana Tuhan.

Terlalu berat untuk masalah sesimpel 2 buah tas? Nggak ada yang simpel buat gue saat bicara rencana Tuhan. Betapa berlikunya, betapa ribetnya kadang, tapi Tuhan selalu punya maksud, pasti mencapai semua karma, pasti adil, dan pada akhirnya pasti indah.


23 Okt 2008

Merasa kosong


sudah bbrp hari ini gue ngerasa begitu. sejak mimpi itu datang lagi. sepertinya alam bawah sadar gue nggak pernah rela 'ngelepasin' gue dari jeratan yang satu itu. tiap gue udah berjuang mati2an dan berhasil lepas, dengan mudahnya dia datang melalui mimpi, dan menguaplah segala susah payah perjuangan gue. cuma menyisakan rasa yg dulu pernah ada, dan saat melihat ke saat ini...gue merasa kosong...

21 Okt 2008

Ngantuk


Kembali ke jadwal jahiliyah neh berkat adanya 'Global Market'... Masih mendingan sekarang sih jam 5 subuh, dulu malah lebih ajaib, jam 11 malem!! Serasa hansip. orang pada bobo', gw mandi 'n pake seragam, trus duduk manis di ruang tamu nungguin jemputan kantor.

Buseett..ngantuk book! untung 'cuma' 2 x seminggu nih jadwal subuh. Dan untung juga kalo masuk jam segini jadi bisa pulang jam 2. Meski gak ngaruh2 amat, karena nyampe sekitar 1/2 3 langsung gubrak di kasur, molor sampe jam 5-an. Bangun beres2 rumah dikit, baru cabut ke sebelah aprusan shift ngurus Kalum.

Hmm...jujur, kadang capek, kadang stress. Tapi takut jadi kaya' orang yg nggak bersyukur. Makanya kadang gw suka terapi ketawa-ketiwi sendiri kalo otak gw udah bener2 kenceng. Dan hasilnya................?? Nggak nolong sama sekali! malah sukses terlihat seperti orang gila.

ooohh...PRT yang bisa nginep, datanglah ke hariba'ankuuuu... yang penting buat gue, dia nggak neko2, nggak susah dimintain tolong, dan jujur. pesan tambahan dari nyokap: harus yang udah tua, yang nggak cantik, yang nggak montok, dan nggak centil, hahahahaaaa......*tertawa tanpa ekspresi*

20 Okt 2008

Sibuknya pagi-pagiku ^_^


Setelah muka gue diacak2 & perut disundul2 sama Kalum, dan nggak tega denger celotehannya yang mengeong2, akhirnya bangun pagi (kalo memang bisa disebut 'bangun', mengingat semalaman memang nggak tidur, hehe). Pipis dulu biasanya, dilanjutkan dengan cuci muka, gosok gigi, lalu baru mandi (kronologi yang aneh...). Terus cuci piring, cuci dot2 kotor, masak air buat mandi Kalum, sambil sesekali ngintip2 ke kamar... takut, siapa tau Kalum udah berbungee jumping lagi dari tempat tidur.

Siapin perabotan mandinya (isi air ember, buka baby bath bed, siapin sabun, ambil baju & popok), barulah aksi menelanjangi Kalum dilakukan dengan penuh perjuangan, soalnya ni bocah ga bisa diem, guling2an, nungging2, atau seruduk2 papinya biar bangun.

Kalo Gembul akhirnya menyerah untuk bangun, malah kebeneran banget! (kasian sih sbnrnya, coz gembul baru aja bobo' pulang dari kerja. yah, susah emang, menahan godaan dari malaikat kecil.) Tapi Kalum jadi bisa dijagain sebentar, main2 sama gembulku dulu, sementara gue ngebut nyapu & ngepel kamar. biasanya jam 7-an gitu mbak Yanti udah dateng dan nyapu ngepel rumah, tapi kalo kamar tetep teritori gue.

kelar dancing on the floor with mop as the partner, saatnya untuk mencomot Kalum yang udah 1/2 telenji dari tempat tidur dan membopongnya ke kamar mandi. kalo doi pup, dicebok2 dulu, baru aktivitas guyur mengguyur dilangsungkeun, sambil nyanyi2 dan melet2 biar Kalum happy ^_^ (tapi kayaknya gak begitu pengaruh taktik ini, dia nangis atau enggak itu tergantung tingkat suhu air, kalo terlalu dingin, mau nyanyi seriosa juga kalah oktafnya dibanding jeritan Kalum)

weits! jam berapa nih?! waks, udah jam 8 lewat? ngebut...ngebuut... bajuin Kalum (lagi2 dengan penuh perjuangan), tetesin vitaminnya, beresin perabotan mandi, bungkus semua dotnya yang udah selesai disteril, bawa bubur bikinan semalem, melesat ke rumah tetangga sebelah....wooosshh!! *dengan gaya the Flash* sambil gak lupa berteriak mesra, "Mbul, buruan siapin motoorrr!! aku balik 5 detik lagi! gak usah pake acara pup, tahan ajaa!!"

di rumah 'tetangga', nyokap dan adek gue udah cengar-cengir sambil berebutan mau gendong Kalum. Makluk super lucu itu pun berpindah tangan, sementara gue nyiapin bekal buat makan siang gembul. melesat lagi ke rumah, kali ini dengan gaya si Pitung menarik kebo' ngamuk.

nyampe rumah, menginstruksikan gembul untuk begini dan begitu, hap hap hap!! trus bedakan (wajib inih! kalo enggak bekas cacar gue kemaren bisa terungkap pada khalayak ramai...) dan pake sepatu. matiin semua lampu, konci semua pintu, pake helm, dan loncat ke boncengan si gembul yang masih nguap lebar2...

YAK, METROO, I'M COMIIIIINGG.....!!

14 Okt 2008

Such a careless mom i am :' (


2 hari lalu Kalum jatuh dari tempat tidur Wike. Gue nggak begitu tau gimana proses kejadiannya, yg gue tau gue ninggalin Kalum karena dia gelisah lagi tidur, karena takut dia haus, so gue langsung bikin susu.

tau2...bug! suara benda jatuh ke lantai dan gue yang lagi mau masukin susu ke dalam dot menoleh ke pintu kamar. Dalam kegelapan, sepintas gue nggak liat Kalum di atas tempat tidur.

Panik, gue buru-buru melesat ke kamar. Dan gue liat pemandangan yang paling gue takutin terjadi selama ini, Kalum udah terlentang di lantai, dan baru nangis kenceng beberapa detik kemudian.

I'm a bad mother! I'm a bad mother! I hate my-stupid-self!!


13 Okt 2008

I miss u, bik


Tiba2 kok gw teringat salah seorang PRT yang pernah kerja di keluarga gw dulu ya? PRT yang membuat gw terkenang2 ini sekarang entah berada di mana hutan rimbanya (dianggep margasatwa, apa?). hidup matinya juga gw nggak tau. Sedih kalo inget beliau...ceilee...sekarang aja ’beliau’, dulu disiksa lahir batin. Emang dosa gw segunung sama dia.


Namanya bibik Wati. Ya, cuma secomot itu namanya. Wati. Orangnya meski udah setengah tua, setengah bangka, tapi bodinya sterk dan masih gagah. Bahkan bisa dibilang masih oke, loh! Gw sering liat dia mandi, hehehhe. Bukannya ngintipin, tapi emang dianya aja yg sering mandi nggak ngonci pintu. Mungkin berharap ada Prince Charming yang buka tu pintu dan mergokin dia mandi, trus ngajak kawin. Sayangnya, gw lagi gw lagi ajaaa...yang ketiban mergokin.


Bibik ini ikut keluarga gw dari gw masih bayi. Dia yang ngurusin gw pake tangannya sendiri. Ngapa2in pasti sambil gendong gw pake selendang (jaman dulu nyebutnya ’samping’). And biar leluasa kerja, gendongan gw diputer ke arah belakang, jadi muka gw tepat di keteknya dia. Kata nyokap, ”Eci ini anak bibik banget, paling anteng kalo digendong sama bibik. Apalagi kalo gendong model diketekin, pasti langsung tidur..” Jelas aja, orang dikepit di ketek gitu, ya langsung pingsanlah gw sebagai bayi yg masih ga berdaya!!


Ga sampe di situ aja ’keakraban’ kami berdua. Menurut hikayat, gw ini kecilnya suka nangis histeris tanpa sebab dan nggak berhenti2. Orangtua gw suka bingung, takut anaknya liat sejenis makhluk2 halus. Dan di sinilah sang bibik beraksi! ”Monyet, siah!! Pergi, setan! Jangan ganggu anak saya!! Pergi, Monyet! (sebenernya monyet apa setan, sih bik?) jeritnya sambil gedor2 plafon pake ujung sapu ijuk. Kalo masih nggak mempan juga meredakan tangisan gw, maka akan dilakukan ritual yang paling tokcer dan direstui nyokap gw sepenuh hati, yaitu muka gw disembur pake air sirih setelah tu air dikumur2 sama si bibik sambil baca jampi2! OH MY GOOOD!!! Jelas gw ngamuk2 begitu diceritain ini setelah gede. Tapi nyokap gw membela diri dengan alasan demi menenangkan gw. Sekali lagi....ya iyalllaaaah, abis disembur pake aer kumur2 gitu gw langsung semaput, kali.. mungkin itu yang diartikan tenang sama nyokap. $&*@&


Tapi belum mencapai usia batita, bibik ini tau2 berhenti kerja dari tempat gw. Baru balik lagi pas gw kelas 1 SD. Sejak itu dia ikut terus berpetualang sama keluarga gw yang pindah2, dari Jakarta, Bandung, keliling Kalimantan, dan akhirnya balik lagi ke Jakarta. Dan sepanjang itulah bibik ini gw dera terus menerus dengan siksaan, HAHAHAAAA...eh, maksud gw ; Astaghfirullahuladziim, ampuni hamba ya Allah, dulu masih kecil, belum tau mana yang baik mana yang buruk.


Tapi bibik ini emang kadang nyebelin juga, sih! Orangnya pemarah, tampangnya ga pernah disetrika, kusut terus, kalo ngomong suka kasar. jadi wajar aja kalo gw sebel. Kalo dia capek abis kerja seharian dan mau istirahat sebentar sambil nonton TV, langsung gw halang2in biar ga keliatan TVnya. Pertama dia pikir mungkin gw nggak sengaja, trus dia coba geser ke kiri, gw ikut geser ke kiri. Dia geser ke kanan, gw ikut geser ke kanan. Pokoknya tuh aksi baru berhenti kalo bibik akhirnya sadar gw sengaja dan dia pun bangkit dari duduknya sambil misuh2. hehe, gw pun nyengir penuh kemenangan.


Atau kalo dia mau nonton film Kungfu kesukaannya (tadinya kesukaan gw, tapi dia ikut2an), jauh2 jam dia udah bilang, ”Sebentar lagi pilem KongKong!” aduuuh...bikin makin BT aja nggak sih? udah berkali2 dibilang ’Kungfu’, tapi tetep aja dia kekeuh nyebutnya ’KongKong’. ”Nggak ada malem ini nggak tayang!” sahut gw ketus. ”Tapi ini, teh, malem Isnen (Senin, maksudnya). Aya’ pilem KongKong!” dia balik ngotot dengan bahasa Sundanya. ”Nggak ada!”


Dan meski pun dia udah nungguin berjam2 di depan TV, bela2in nonton acara lain yang membosankan biar nggak terlewat film KongKong kesayangannya, tepat pas jamnya..’ctek!’, TV gw mati’in. Gw pun berlalu dengan santainya menuju kamar Bokap dan nonton film Kungfu disitu sambil cengengesan, karena gw tau saat ini dia pasti lagi ngomel2 di ruang TV dan beranjak tidur, karena dia emang ga berani nyalain TV sendiri. God, jahat banget gw ya? Tapi para pembaca, perlu diingatkan bahwa ini terjadi saat gw masih SD lho. Yaaa...biar para pembaca nggak benci2 amat sama saya, gitu. *nyengir innocent*


Biar imbang, gw ceritain juga sisi nyebelinnya nih bibik ya. Kalo di rumah lagi ada tamu cowok yang masih muda, wahhh....yang biasanya dia lempeng aja kalo kita2 yang nyuguhin air minum, eh ini ngotot harus dia yang bawa baki keluar. FYI, dandanan si bibik ini a la wanita2 dewasa dalam film boneka si Unyil. Berkebaya, pake kain, rambut sanggulan (bener2 pake sanggul sehari2nya, tu sanggul kalo dicopot malem2 pas dia mo tidur suka dipake maen lempar2an sama gw dan abang gw!). nah, begitu mo nyuguhin minuman, langsung deh....sanggulnya yang acak2an dirapiin, peniti kebayanya dibuka beberapa di bagian perut biar udelnya terekspos, kainnya yang biasanya sebetis...dinaikin sedemikian rupa sampe di atas dengkul!!! Buset dah si bibik, centilnya kumat kalo udah ada tamu lelaki muda!


Dan begitu sampe di meja, langsung basa basi dengan manisnya dan berlama2 ngobrol! Tentunya gw sama kakak gw yang cewek nggak akan membiarkan dia seneng2 lama2 dong! Sambil sikut2an di balik gorden, kita saling kasih isyarat dan sepakat teriak, “Biiiiik....!!!” dan terus ber’bikbik’ria sampai si bibik dateng dengan ngomel2 marah, hahahaaaa!!! Dia tau banget kalo kita manggil bukan ada keperluan, tapi biar dia masuk dan ga bisa ngelanjutin kecentilannya di ruang tamu aja! Oh God, cerita ini ternyata malah bikin pembaca makin sebel sama saya, ya?? Sekali lagi saya ingatkan, saya masih begitu lugu saat itu...


Hmm, bibik Wati... yang kalo lagi waras (dalam artian nggak lagi ngomel2) suka cerita masa mudanya mulu, dimana dia adalah sang primadona. Banyak cowok2 yang memperebutkan dia, termasuk serdadu2 Belanda. Pernah nikah sekali, nggak ada anak, dan cerai karena ribut terus. Satu2nya kenang2an dari mantan suaminya adalah kupingnya yang robek dua2nya, karena pas berantem suaminya narik anting2 yang lagi dia pake sampe copot dari kupingnya.


Bibik Wati... yang meskipun sering gw jahilin, dan sering ngomelin gw, tapi sebenernya sayang sama gw. Dia tau banget makanan kesukaan gw tuh nenas sama mie rebus. Jadi dia sering bikin kejutan, tau2 ngasih gw sepotong nenas yg gede pake garem, atau semangkok mie rebus, yang semuanya itu dia beli pake duitnya sendiri. Dia seneng liat ekspresi kegirangan gw. Dia juga paling hobi bawa oleh2 buanyaaakkk banget (satu sawah kali tuh) tiap abis balik dari kampungnya.


Bibik Wati... yang kalo diomelin sama nyokap karena ngelakuin kesalahan, pasti langsung ngeluarin bahasa Sundanya dengan tingkat kesusasteraan tertinggi, biar nggak ada yang ngerti. Bahkan kadang gw curiga, tu kalimat eksis beneran ga sih dalam bahasa Sunda? Kalo bahasa sehari2 kita masih ngerti, giliran membela diri dari kesalahan...kok kalimatnya jadi kaya’ bahasa planet?? Terkadang disertai ancaman mo berenti kerja sambil ngepakin barang2nya. Biasanya bokap gw yang nahan2, eh hari itu bokap cuek. Akhirnya bibik bener2 berhenti hari itu, disertai penyesalannya yang tertinggal dengan pertanyaan bingungnya ke PRT gw satu lagi “Kunaon Bapak teu ngelarang saya berhenti, nya’? biasanya ditahan...” ternyata ancamannya selama ini memang cuma ancaman semata. Dia nggak pernah bener2 pengen berhenti. Tapi hari itu dia terpaksa berhenti dan pulang ke kampungnya. Dan gw cuma dapet kabarnya sepulang sekolah sore itu (gw masih kelas 2 SMP), “Ci, bibik berenti tadi siang, sekarang udah nggak ada, udah pulang.” Kata kakak gw *temen seperjuangan dlm ngerjain si bibik*.

“Iya?” Cuma itu kalimat yg keluar dari gw sambil nyopot sepatu & bikini (walah!).


Sekarang gw nyesel, nggak seharusnya gw bereaksi sedatar itu. Jasa beliau gede banget sama keluarga gw, khususnya sama gw sendiri. Sayang keluarga gw nggak pernah tau alamatnya di Bandung. Seandainya bisa, gw pengen ketemu lagi sama bibik, cium tangannya, minta maaf, dan bahkan gw bersedia ngurus dia di hari tuanya (dulu juga udah tua sih), seperti dia ngurus gw dulu. gw bener2 pengen bales jasa & nebus semua dosa masa kecil gw T_T